| Film Pinocchio: Unstrung |
Kalau kamu masuk ke film ini dengan bayangan hangat seperti versi Pinocchio, siap-siap kecewa—atau justru kaget. Dari awal, film ini sudah menunjukkan niatnya: bukan menghidupkan kembali dongeng klasik, tapi membongkarnya habis-habisan. Pinocchio di sini bukan lagi simbol kepolosan, melainkan sosok yang terasa aneh, dingin, dan cenderung mengganggu. Hubungan dengan Geppetto pun tidak lagi terasa hangat, melainkan punya nuansa obsesif yang bikin tidak nyaman.
Film ini seperti mengikuti tren yang sebelumnya
juga dilakukan oleh Winnie-the-Pooh: Blood and
Honey—mengambil karakter masa kecil lalu mengubahnya jadi sesuatu yang
gelap dan brutal. Secara ide, ini terdengar menarik. Tapi masalahnya, film ini
seolah percaya bahwa membuat sesuatu jadi gelap otomatis membuatnya lebih
dewasa dan bernilai. Padahal, tanpa emosi yang kuat dan karakter yang terasa
hidup, kegelapan itu justru terasa kosong.
Kalau dibandingkan dengan Guillermo del Toro's Pinocchio, perbedaannya
cukup jelas. Versi itu juga tidak sepenuhnya ceria, bahkan cenderung kelam di
beberapa bagian, tapi tetap punya hati. Kita masih bisa merasakan konflik,
kasih sayang, dan perjalanan emosional karakter. Sementara di Unstrung, yang terasa dominan justru visual
disturbing dan suasana suram tanpa kedalaman yang cukup untuk menopangnya.
Meski begitu, bukan berarti film ini
sepenuhnya gagal. Ada beberapa aspek yang bisa diapresiasi, terutama dari segi
desain karakter yang memang sengaja dibuat tidak nyaman dilihat—dan itu
berhasil. Atmosfer gelapnya juga konsisten, dan untuk penonton yang suka horror
aneh atau reinterpretasi ekstrem, film ini masih bisa terasa menarik sebagai
tontonan yang “beda”.
Namun pada akhirnya, film ini terasa seperti
kehilangan arah. Cerita asli Pinocchio
sebenarnya sederhana tapi kuat—tentang kejujuran, moralitas, dan keinginan
untuk menjadi manusia yang “utuh”. Di versi ini, semua itu hampir tidak terasa.
Yang tersisa hanya lapisan luar: visual gelap, tone berat, dan kejutan-kejutan
yang tidak selalu punya makna.
Jadi,
apakah film ini merusak masa kecil? Mungkin bukan itu poin utamanya. Yang lebih
terasa adalah bagaimana film ini gagal menangkap esensi kenapa cerita Pinocchio bisa bertahan begitu lama. Ini
bukan soal berani mengubah, tapi soal memahami apa yang sebenarnya penting untuk
dipertahankan. Tanpa itu, perubahan sebesar apa pun hanya akan terasa seperti
eksperimen yang setengah jadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar