Review Film: Pinocchio: Unstrung — Ketika Dongeng Jadi Mimpi Bur - AlurCerita

Breaking

Kamis, 11 Juni 2026

Review Film: Pinocchio: Unstrung — Ketika Dongeng Jadi Mimpi Bur

AlurCerita.web.id - Kalian Harus Tau,

 
Film Pinocchio: Unstrung

Kalau kamu masuk ke film ini dengan bayangan hangat seperti versi Pinocchio, siap-siap kecewa—atau justru kaget. Dari awal, film ini sudah menunjukkan niatnya: bukan menghidupkan kembali dongeng klasik, tapi membongkarnya habis-habisan. Pinocchio di sini bukan lagi simbol kepolosan, melainkan sosok yang terasa aneh, dingin, dan cenderung mengganggu. Hubungan dengan Geppetto pun tidak lagi terasa hangat, melainkan punya nuansa obsesif yang bikin tidak nyaman.

Film ini seperti mengikuti tren yang sebelumnya juga dilakukan oleh Winnie-the-Pooh: Blood and Honey—mengambil karakter masa kecil lalu mengubahnya jadi sesuatu yang gelap dan brutal. Secara ide, ini terdengar menarik. Tapi masalahnya, film ini seolah percaya bahwa membuat sesuatu jadi gelap otomatis membuatnya lebih dewasa dan bernilai. Padahal, tanpa emosi yang kuat dan karakter yang terasa hidup, kegelapan itu justru terasa kosong.

Kalau dibandingkan dengan Guillermo del Toro's Pinocchio, perbedaannya cukup jelas. Versi itu juga tidak sepenuhnya ceria, bahkan cenderung kelam di beberapa bagian, tapi tetap punya hati. Kita masih bisa merasakan konflik, kasih sayang, dan perjalanan emosional karakter. Sementara di Unstrung, yang terasa dominan justru visual disturbing dan suasana suram tanpa kedalaman yang cukup untuk menopangnya.

Meski begitu, bukan berarti film ini sepenuhnya gagal. Ada beberapa aspek yang bisa diapresiasi, terutama dari segi desain karakter yang memang sengaja dibuat tidak nyaman dilihat—dan itu berhasil. Atmosfer gelapnya juga konsisten, dan untuk penonton yang suka horror aneh atau reinterpretasi ekstrem, film ini masih bisa terasa menarik sebagai tontonan yang “beda”.

Namun pada akhirnya, film ini terasa seperti kehilangan arah. Cerita asli Pinocchio sebenarnya sederhana tapi kuat—tentang kejujuran, moralitas, dan keinginan untuk menjadi manusia yang “utuh”. Di versi ini, semua itu hampir tidak terasa. Yang tersisa hanya lapisan luar: visual gelap, tone berat, dan kejutan-kejutan yang tidak selalu punya makna.

Jadi, apakah film ini merusak masa kecil? Mungkin bukan itu poin utamanya. Yang lebih terasa adalah bagaimana film ini gagal menangkap esensi kenapa cerita Pinocchio bisa bertahan begitu lama. Ini bukan soal berani mengubah, tapi soal memahami apa yang sebenarnya penting untuk dipertahankan. Tanpa itu, perubahan sebesar apa pun hanya akan terasa seperti eksperimen yang setengah jadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here